Sedikit cerita dari Palembang.
Alkisah, tanggal 21-23 April 2012 kemarin saya dapet rejeki nomplok, bias ke palembang gratis. Dengan pekerjaan tentunya :). hahahaha
Di palembang, kesan pertama yang saya dapet itu: luas, basah, dan sungai. Dari pesawat keliatan jelas yang namanya rawa-rawa, kubangan, kolam, sungai, jembatan, dan industri kimia. Bahkan ada sungai yang bertemu di muara dengan warna yang berbeda, yang satu biru gelap dan lainnya cokelat.
Hari pertama, langsung masuk hotel tanpa basa-basi. Soalnya panas dan lembab, beda sama jakarta ato bandung. Tapi, hutan kotanya cukup mengundang penasaran, hehe.
Hari kedua, barulah jalan-jalan. Pertama, menuju venue SEA Games, juga menuju Wisma yang digadang oleh Nazarudin. Rupanya ada juga wisata korupsi disini :). Berikutnya, masih satu kompleks, menuju Std. Jakabaring (foto menyusul males upload). Setelah puas di jakabaring, kami segera menuju Pusat Iptek Palembang, yang dulu dibangun dalam rangka PON (kalo ga salah ye :p). Sayangnya, ketika kami kesana sedang tutup.
Selanjutnya, Jembatan Ampera, yang konon dahulu sering dilewati oleh kapal-kapal perdagangan. Jembatan yang dibangun pada masa pemerintahan Bung karno ini dulunya bisa diangkat bagian tengahnya, untuk mendahulukan kapal dagang lewat, tapi sekarang sistem ini sudah tidak digunakan lagi. Mengenai sistem ini, muncul anekdot, “orang palembang itu sakti, bahkan kencingnya bikin ampera ga bisa diangkat.”
Di sekitar Jembatan Ampera, ada beberapa tempat yang cukup menarik, yaitu Museum Sriwijaya (nah ini fatal. lupa nama museumnya, yang jelas ga jauh dari jembatan ampera. kalo weekend penuh sama anak kecil :’). Museum ini bercerita tentang sejarah palembang dan kebudayaannya. cukup lengkap, sampai ada resep makanan khas palembang yang dituliskan disana (bukan pempek,apalagi tekwan). Artefak yang ada disini dapat bercerita, apalagi ketika itu saya didatangi oleh seorang bapak yang juga menceritakan tentang artefak-artefak itu. Sayangnya, tempatnya cukup sempit dan tidak terlalu luas. Sehingga tidak terlalu menyenangkan bila sedang ramai pengunjung.
Di dekat museum, ada juga benteng yang dibanggakan oleh orang palembang, fotonya juga nyusul yak, hehe. Museum lain yang ada cukup jauh dan tersembunyi letaknya. Konon, ini museum terbesar di palembang, tapi, entah kenapa seperti tidak terawat dan “seadanya” saja. Pengunjung pun sangat jarang, paling sering murid sekolah yang mengadakan kunjungan. Bahkan ada beberapa artefak ayng tidak pada tempatnya, seperti “hilang”.
Kesan terdalam saya ada pada mbak-mbak yang jaga kios HP. Bukan karena dia cantik. Tapi, karena disana saya dipanggil “KOH”. HAHAHAHA ngakak saya waktu itu, saya yang memang agak sipit tapi cokelat manis bisa-bisanya dibilang koh. Lucu juga. Oya, mengenai mbak-mbak palembang, mengutip kalimat teman saya @Rosacitra: “Di palembang itu mirip di thailand. Orangnya banyak putih, sipit, ngomongnya mirip.” Ada betulnya juga, selain kalo liat temen saya itu (sebab dia keturunan palembang). Akulturasi yang begitu hebat, ketika Laksamana Cheng Ho datang dan melakukan syiar Islam, juga terjadi akulturasi budaya dan genetik. Melalui pernikahan tentunya, buktinya, sipit-sipit juga banyak yang muslim. HAHA yang penting satu Indonesia kan?
Sebuah ironi besar yang saya dapat di Palembang saya temukan di sebuah toko empek-empek. Supir yang mengantar kami bilang, “jangan lupa oleh-oleh pak. Disini yang khas itu Lempok Durian sama Dodol Durian.” jujur, saya penasaran. lalu saya minta ke mbaknya sampel dua-duanya. Terkejutlah saya ketika melihatnya.
Lempok durian seharga 25rb itu asli buatan Palembang, tapi, Dodol Durian yang dibilang oleh-oleh khas Palembang itu, ternyata buatan Thailand dan berharga 50rb.
Lalu, sebenarnya saya itu di Palembang atau Thailand?
Sekian ulasan saya di #Travelnotes kali ini, Wassalam.
Meluap.
Kenapa ya, rasanya setelah masuk ITB, khususnya udah di jurusan saya malah ngerasa tambah bodoh. Rasanya cuma pinter ketemu angka sama rumus aja, selebihnya ngga kerasa. Bukan berarti sebelom ini saya ngerasa cerdas ato gimana, tapi yang jelas sekarang saya ngerasa ada yang hilang. Dulu, rasanya saya lebih mudah melakukan pengambilan keputusan dan siap dengan konsekuensi. dulu rasanya lebih bisa orientasidi lapangan kalo ada event-event. dan sekarang? rasanya makin numpul, kok rasanya kalo ngebandingin sama saya yang dulu, yang dulu lebih kritis dan tajam. Sekarang tumpul. Mungkin saya tambah bodoh (secara sosial) dan mungkin juga ga nambah cerdas (secara akademik).
Ada sesuatu yang ngga tepat disini. Saya tahu, selama ini saya udah punya plihan mau jurusan tertentu. tapi, saya milih tekim ya karena ibu saya mau begitu. Dengan beribu alasan yang … didapat karena diskusi dengan salah satu dosen tekim yang pas masuk ITB menjadi dekan. Apa boleh buat, ya karena udah ga boleh masuk fakultas yang saya mau ya dengan pikiran “demi ibu saya, mungkin dulu ga kesampean masuk tekim.”
Diskusi ini dan itu, bukan berarti selama ini orang tua saya otoriter, tapi lebih ke “yang terbaik untuk saya” (versi orang tua saya tentunya). yah, lalu akhirnya sebagai manusia biasa yang dianugerahi kemampuan membuat topeng kehidupan, saya bersandiwara seakan memang saya mau masuk tekim. Seakan passion saya disitu. Seakan tujuan hidup saya harus dibangun di tekim. setelah masuk tekim, saya pun memilih subjurusan. setelah menimbang dan mempertimbangkan subjur yang paling “lumayan” (sedikit menarik minat. sedikit yak.), saya pun memilih teknologi pangan. dengan sekian alasan, akhirnya ibu saya menerima saya milih TP.tapi, bapak saya malah tanya, “Sudah kamu pikirkan matang-matang itu?”. Sebelumnya, orang tua saya bilang, pilih subjur sesuai minat. Selalu saya jawab, kalo itu sih, saya masuk DKV boleh dong? ha-ha-ha. hambar.
Satu hal yang lain, selama ini,saya membuat rencana tujuan hidup yang begitu besar. tentu goal akhirnya memang sesuai dengan yang ingin saya tuju. tapi, di goal terdekat, itu saya bangun dengan dasar tekim. Artinya, itu bukan tujuan hidup yang benar-benar panggilan jiwa saya, dan saya belum tentu dengan sepenuh hati mau menjalankan itu.
Sebuah pelajaran, bahwasanya memang Allah swt. akan memberi beban yang sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Juga benar bila Allah swt. akan menunjukkan jalan yang tepat bagi kita bila kita meminta. Dan sangat benar bila Allah swt. hanya mengubah keadaan suatu kamu bila kaum itu mengubah keadaannya sendiri. Artinya, bila beban yang dirasa di jalan ini terlalu berat, maka berdoalah. mungkin itu cara Allah swt. untuk menunjukkan pada kita jalan yang lain, yang tepat untuk kita, dan bila kita tidak merubahnya, maka tidak akan ada yang berubah.
pelajaran kedua, kalo kita melakukan sesuatu yang dalam hati kecil kita tidak kita mau, atau tidak kita sukai, yaa sesuatu itu ngga akan berjalan lancar. Karena ikhlas itu sulit.
Sekian.
Source: meluap
terhempas dan pecah.
ketika semua terasa abu-abu, aku masih tercenung memikirkan sebuah kalimat, sebuah taklimat yag terus menerus kurapal bagai mantra. komat-kamit terus ku ucap, tiada cela ku terus berusaha.
Keringat dingin terus menetes, gemetar di sekujur tubuh, darahku rasanya naik ke rambut. setiap langkah yang kuambil, semakin berat rasanya. perutku terasa mual, tapi rasa mual yang aneh. Rasanya seperti ada yang berputar dan bermain komidi putar dalam ususku.
aku yakin Newton salah, ia tak pernah kuliah fisika dasar. Gravitasi seakan berpindah, melesat cepat aku ke atas. melayang menuju awan dan tak terbatas. tapi itu semua palsu, bohong belaka. setiap langkahku menuju arahmu semakin berat, seakan muncul rantai besi pada kakiku seperti bandit-bandit itu. aku yakin, bahwa seharusnya kau yang terantai seperti bandit.
sekarang aku di hadapmu, berlutut. dan aku bertanya, “maukah?” karena aku yakun, kamu pastilah tahu apa yang kumaksud. tapi kau menggeleng dan berkata, “maaf, tapi pasti ada yang lebih baik.”
Bahkan tak satu kesempatan pun kau berikan. musnah sudah mimpi-mimpi yang nyaris nyata. Eksplosif, reaktif. apapun itu, kau sudah memilih, selesaikan pilihanmu. dan aku, pun akan berjalan pada jalanku, dalam diam, dalam ragu, dalam bimbang, dalam limbung, dalam remang, dalam sunyi. hingga ujung jalan ini.
Tidur.
Tidur. Salah satu momen yang paling saya suka dari manusia. Tidur adalah satu saat yang membuat saya sadar, bahwa kita adalah sama, manusia yang hidup dan saling menghidupi di bumi. Tidur adalah ritual ketika kita memejamkan mata dan melayangkan doa, bagi siapapun.
Siapapun dia, sekeras apapun ia bekerja, setinggi apapun jabatannya, semulia apapun orang itu, jika ia tidur, ia akan memejamkan matanya. wajah yang terlelap, jatuh dalam kantuk yang dalam. Semua sama, di belahan dunia manapun tetap akan terpejam.
Kita ini sama, kita manusia. Manusia yang terus berusaha dan berjuang untuk apa yang berharga baginya. Sadarkah?
